Artikel
Trial Pembuatan Briket Jerami: Dari Sawah Hingga Proses Pencetakan
Suasana sawah di Desa Ngampel sore itu terasa berbeda. Beberapa mahasiswa KKN tampak sibuk memungut jerami kering yang berserakan setelah musim panen. Mereka bergerak berkelompok, mengikat jerami, lalu mengangkutnya keluar sawah. Di sela-sela kegiatan itu, salah seorang bapak petani yang sedang melintas sempat tersenyum dan berkata, “Jerami di sini banyak sekali, Mbak. Selama ini cuma ditumpuk saja atau dibakar, jarang dimanfaatkan. Kalau bisa dibuat sesuatu, itu lebih baik.” Ucapan itu semakin memotivasi mahasiswa untuk mengolah jerami menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Setelah terkumpul, jerami dibawa ke tempat kegiatan untuk dijemur kembali. Panas matahari siang itu membantu proses pengeringan, sehingga jerami lebih mudah diproses pada tahap berikutnya. Dari situ, jerami kemudian dibakar dengan metode tertentu hingga menjadi arang. Asap tipis mengepul, dan aroma khas jerami terbakar memenuhi udara.
Arang jerami yang sudah jadi lalu ditumbuk halus. Suara tumbukan terdengar berulang-ulang, bercampur dengan tawa mahasiswa yang saling bergantian menumbuk. Setelah itu, mereka menyiapkan perekat alami dari larutan tepung tapioka. Campuran arang jerami halus dan larutan tapioka kemudian diaduk menjadi adonan pekat berwarna hitam.
Tahap berikutnya adalah pencetakan. Adonan dipadatkan menggunakan cetakan sederhana dari potongan paralon. Jerami arang yang sudah tercampur dengan larutan tapioka itu ditekan kuat-kuat ke dalam paralon hingga padat dan berbentuk tabung. Tangan-tangan mahasiswa kotor oleh arang, namun semangat mereka tidak berkurang sedikit pun. Briket hasil cetakan itu kemudian dijemur kembali agar mengeras dan siap diuji coba sebagai bahan bakar.
Warga yang melihat kegiatan ini tampak penasaran. Beberapa di antara mereka berkomentar bahwa ide ini bisa menjadi solusi untuk mengurangi limbah jerami yang selama ini hanya menumpuk tanpa guna. Ada pula yang berharap agar briket jerami ini bisa terus dikembangkan menjadi program berkelanjutan yang memberi manfaat ekonomi bagi desa.
Kegiatan trial ini memang masih dalam tahap percobaan, namun hasilnya memberi gambaran nyata bahwa jerami bukan sekadar limbah. Dengan sedikit kreativitas dan kerja sama, jerami bisa menjadi energi alternatif ramah lingkungan sekaligus memberi inspirasi baru bagi masyarakat.
Penulis:
Chikita Puspa Yuliarini (Tim KKN 15 Reguler 2025)
Universitas Muhammadiyah Gresik
Desa Ngampel, Balongpanggang, Kabupaten Gresik


Tim Voli "Oreo Ngampel" Raih Kemenangan Gemilang di Desa Brangkal
Penerbitan Sertifikasi Halal di Desa Ngampel: Wujud Dukungan untuk Pelaku UMKM
Dari Hobi hingga Cita-Cita Unik, Siswa SDN 133 Ngampel Asah Public Speaking Lewat Bahasa Inggris
Mahasiswa KKN Gelar Perlombaan Malam, Warga Ngampel Penuh Antusias
Kolaborasi Mahasiswa KKN dengan Karang Taruna Dusun Karangpilang dan Kedondong
Demonstrasi Pembuatan Jamu Jahe dan Temulawak, Warga Ngampel Antusias Belajar
SEKOLAH KEJAR PAKET GRATIS
Kejurnas Bola Volly Junior
Pelatihan Penanggulangan dan Mitigasi Bencana Alam Bersama BPBD Kabupaten Gresik
"Desa Ngampel Ikut Lomba Vlog Vidio Parodi Surat Digital: Dukung Nawakarsa Bupati Gresik"
"Inovasi POEDAK: Pelayanan Kependudukan Desa Ngampel Lebih Mudah!"
Tasyakuran Sedekah Bumi Dusun Karangpilang Desa Ngampel: Pagelaran Wayang Kulit Ki Dalang Puguh Pras
Menyongsong Program Proiritas NAWA KARSA desa SIAP se Kecamatan BAlongpanggang
"Kegiatan Hari Gizi Nasional di Desa Ngampel: Penyuluhan Gizi dan Pencegahan Stunting
Mahasiswa UMG Laksanakan KKN di Ngampel: Sinergi Edukasi, Teknologi & Pemberdayaan Potensi Lokal
Kerja Bakti Menghias Lingkungan di Dusun. Karangpilang Memeriahkan HUT RI ke-78
Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Desa Ngampel Melalui Program Pengentasan Kemiskinan dari Dana A
Dari Sawah ke Layar: Proses Mahasiswa KKN Buat Arsip Digital Pertanian Desa Ngampel
Peningkatan Infrastruktur Desa dari Pavingisasi ke Program Rabat Beton
Menjaga Tradisi dan Rasa Syukur Lewat Kendurenan Suro di Desa Ngampel